Dato Dr Ahmad Kamal Abdullah -Kemala
Sarjana Tamu
Universiti Putra Malaysia
dato_kemala@yahoo.com
1
Membaca puisi yang dapat menyentuh hati nurani itu, seolah memperoleh Cinta sahih yang membahagiakan. Ia menjadi sahabat seakrab Rumi dengan Shams at-Tabrizi. Atau seperti Hafez yang menantikan bayangan kekasihnya muncul di hadapan jendela menyambut roti yang dipesan. Semenjak empat dekad yang lalu, inilah yang membuat saya bahagia dengan segugus puisi Rumi, Hafez, Amir Hamzah, Iqbal, Tagore, T.S. Eliot, Pablo Neruda, Chairil Anwar dan Usman Awang. Kebahagiaan itu muncul walaupun dalam saat-saat saya luka dan merintih dalam percintaan.
Tuhan memberikan anugerah yang besar kepada Hamba-Nya sang penyair itu, menjadi penyair (dan bukan sebagai presiden) mampu menggilap kata demi kata, menyusun metafora demi metafora menyempurnakan keajaiban imaginasi sehingga mengharmonis dalam stanza demi stanza lalu menimbulkan amsal-amsal yang mekar. Ungkapan dalam jalinan yang puitis itu kadang waktu dapat menitiskan airmataku atau melonjakkan semacam kegembiraan batiniah. Hal yang sama kemudiannya bukan tidak selalu, dialami secara peribadi apabila sesudah menghasilkan atau sedang menuliskan baris demi baris puisi. Saya mengalami ini waktu menuliskan Meditasi (1972), ‘Ayn (1983), Pelabuhan Putih (1989), Titir Zikir (1995), MIM (1999) dan Ziarah Tanah Kudup (2006).
II
Tentulah bukan hanya kerana bakat berbahasa sahaja yang dipunyai oleh Rumi, Hafez dan Tagore. Keluarbiasaan momentum yang mereka alami secara lahiri dan batini. Apa yang dapat dilihat oleh “kebistarian” kepenyairan mereka di sebalik sana yang memang menjadi hadiah dari Ilahi. Sebagai penyair atau pujangga ataupun sufi besar tazkiyyah an-nafs mereka tentu mengalami peringkat yang tinggi. Apalagi makam kepasrahan mereka kepada al-Khaliq sudah menggenggam makam Sabar, Faqir, Tawakal, Cinta dan Redho.
Keindahan puisi atau qasidah atau masnawinya terjalin bagus bagai anyaman lagu qasidah yang ikut dinyanyikan oleh para pengikutnya yang setia.
1
Rumi menukilkan:
Karamlah aku di dalam rindu
Mencari Dia, mendekati Dia
Dan telah tenggelam pula
Nenekku dulu; dan yang kemudian
Mengikut pula.
- Kalau kukatakan bibirnya
Itulah ibarat dari bibir pantai lautan
Yang luas tak tentu tepinya
Dan jika aku katakana LAA
Tujuku ilah ILLA
“Aku bukan tertarik oleh huruf
Dan oleh suarapun bukan; makin
Jauh di belakang dari yang didengar
Dan difaham
Apa huruf, apa suara
Apa guna kau fikirkan itu
Itu hanya duri, yang menyangkut kakimu
Di pintu gerbang Taman indah itu
Kuhapuskan kata, dan huruf dan suara
Dan aku langsung menuju Engkau”
(‘Ishq)
Hafiz al-Shirazi menulis memujuk hatinya agar sedar akan cinta agung al-Khaliq, betapapun dia dirundung putus percintaan degan kekasihnya, tetapi Kekasih Abadi tetap hadir:
Tuhanlah yang tahu, betapa penderitaan kita lantaran
Mencintai Dia.
Penderitaan dan Kerinduan, lama terpisah dari Dia;
Janganlah berduka.
Ayuhai hatiku; jika besar gelombang menderu dalam lautanmu,
Akan datanglah perahu Nabi Nuh menjemput engkau;
Janganlah berduka.
Tempat ini memang menakutkan,
Dan tanah daratan masih jauh.
Tetapi itu takkan lama, sebentar alampun cerah;
Janganlah berduka.
Hafiz! Meskipun kau ini miskin,
Dan malammu gelap gulita semata.
Selama engkau masih menyeru Nama-Nya,
Dan Quran di tanganmu;
Janganlah berduka.
(Perjumpaan Semalam)
2
Jika Rumi menulis ‘Ishq, Hamzah Fansuri juga menyentuh detik merindui Ilahi ini dalam syairnya yang berikut:
Jika kau sungguh asyik mabuk
Memakai candi pergi menjaluk
Ku dalam pagar supaya kau masuk
Barang ghairallah sekaliannya amuk
Tiada kau tahu akan agamamu
Terlalu ghurur dengan hartamu
Nafsu dan shahwat daim sertamu
Asyik dan mabuk bukan kerjamu
Hamzah miskin hina dan karam
Bermain mata dengan Rabbul Alam
Selamanya sangat terlalu dalam
Seperti mayat sudah tertanam.
Hempaskan akan dan rasamu
Lenyapkan badan dan nyawamu
Pejamkan hendak dua matamu
Di sana lihat peri rupamu.
Hamzah miskin orang Uryani
Seperti Ismail jadi qurbani
Bukannya ‘ajam dan ‘arabi
Nantiasa wasil dengan yang baqi
(Ruba’i Hamzah Fansuri)
Muhammad Iqbal menautkan masalah sains duniawi dengan persoalan rohaniah, masyarakat Islam di zaman mutakhir. Antara tawhid dan ibadah dan berlumba-lumba mengisi dada dengan ilmu pengetahuan adalah menjadi tuntutan ad-din, dan apabila semuanya sirna, namun Allah wujud Abadi:
Apakah organisasi sosial, adat dan undang-undang?
Apakah rahsia keganjilan sains?
Kehendak yang menimbulkan dirinya dengan kekuatannya sendiri
Dan meluru keluar dari hati dan mengadakan rupanya.
Hidung, tangan, otak, mata dan telinga
Begitu juga khayalan, perasaan, ingatan dan fahaman,
Semua itu adalah senjata disediakan oleh Hidup untuk memelihara diri.
Dalam perjuangannya tanpa henti-henti
Matlamat sains dan kesenian bukanlah ilmu,
Matlamat taman bukanlah kuntum dan bunganya,
Sains adalah alat untuk memelihara Hidup.
Sains adalah alat untuk menggegarkan diri,
Sains dan kesenian adalah hamba Hidup.
Hamba yang lahir dan beranak-pinak dalam rumahnya.
3
Bangun, wahai anda yang tidak tahu rahsia hidup,
Bangun mabuk dengan serbat cita-cita (ideal)
Cita-cita bersinar seperti fajar sidik,
Api yang membakar kepada semua yang lain dari Allah.
(Menunjukkan Bahawa Hidup Diri Itu Datang Dari Pembentukan
Cita-cita dan Menzahirkannya)
111
Dalam perkembangan puisi Nusantara mutakhir, penyair besarnya tidak lepas daripada menghirup suasana yang relijius, membawa suara batini yang murni memberikan sentuhan seni yang murni dengan membukakan jendela hati nurani. Amir Hamzah, Chairil Anwar, Usman Awang, Masuri S.N, Yahya M.S, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damaono, Taufiq Ismail dan Abdul Hadi W.M (sebagai contoh):
Amir Hamzah menyatakan Cinta kepada Yang Esa tak berbelah-bahagi. Ungkap Amir:
CINTA
Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita kekasihku?
Dengan senja sepoi, pada masa purnama meningkat naik,
Setelah menghalaukan panas payah terik.
Angin malam mengembus lemah, menyejuk badani, melambung
Rasa, menayang pikir,membawa angan ke bawah kursimu.
Hatiku terang, menerima katamu, bagai bintang memasang
Lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam
Menyirak kelopak.
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku
Dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu,
Biar berbinar gelakku rayu!
Hubungan yang horizontal dan vertikal bagi insan cuba dihayati Usman Awang melalui ibadah gadis buta yang asyik mengalunkan ayat-ayat suci di majlis Khatamul Qur’an. Jika Amir merasakan melalui pengalaman peribadinya, tetapi Usman dengan inderanya merasa situasi yang khusyuk itu melalui ayat-ayat suci yang dialunkan oleh gadis buta. Dari sudut kemanusiaan atau keinsanan pun kita boleh merasakan suasana yang relijius itu, kata Usman:
Semakin malam lagu Tuhan dari bibir sorga
(Gadis buta melanjutkan khatam bulan puasa)
Membawa para malaikat menjengah dada manusia
Hidup yang damai dari keyakinan dan cinta
Berdetiklah di hati, meski manusia paling ganas sekali.
4
Suara yang manis dalam bisik daun-daun
Gadis cacat dan ayat suci beralun
Meski tidak melihat, malah itulah pula
Kesuciannya sorga hidup perdamaian manusia
Berdetiklah di hati, meski manusia paling ganas sekali.
(Gelombang 1961:80-81)
Amir Hamzah mengungkapkan dengan syahdunya “dengan apakah kubandingkan pertemuan kita kekasihku?” Sedangkan Usman membayangkan “semakin malam lagu Tuhan dari syurga” . Amir sudah berkomunikasi dengan Tuhannya apabila merasakan “Kalbuku terbuka menunggu kasihmu bagai sedap malam menyirak kelopak” Usman menghubungkan kepada fungsi kemanusiaan yang luas “Kesuciannya sorga hidup perdamaian manusia” walaupun “berdetiklah di hati, meski manusia paling ganas sekali.”
Apakah fungsi seni kepada kehidupan? Tokoh seperti Usman dan Masuri S.N komponennya dalam Angkatan Sasterawan 50, selalu mempunyai kesadaran itu. Seni sastera (wajar) dapat dimanfaatkan untuk masyarakat terbanyak. Kita dapat melihat esensi daripada “Ini Nasi yang Ku Suap” Masuri S.N:
INI NASI YANG KUSUAP
Ini nasi yang kusuap
pernah sekali menjadi padi harap,
melentok dipuput angin pokoknya kerap
tenang berisi tunduk menatap.
Ini butir nasi yang kukunyah,
Sedang kutelan melalui tekak basah,
Jadi dari darah mengalir
Dalam badan gerak berahir.
Angin kencang mentari khatulistiwa
Membakar raga petani di sawah
Panas hujan dan tenaga masuk kira
Dan nasi yang kusuap campuran dari semua.
Ini budi yang kusambut
Pemberian lumrah beranting dan bertaut,
Ini nasi hasil dari kerja
Kembali pada siapa yang patut menerima.
Jadi yang kumakan bukan berasal dari nasi
Tapi peluh, darah dalam isi mengalir pasti,
Jadi yang kutelan bukan berasal dari padi
Tapi dari urat dari nadi seluruh pak tani.
(Puisi Baharu Melayu 1966:22)
5
Seni Untuk Masyarakat, Seni Untuk Kemanusiaan, Seni yang Universal Humanisme dan Seni Untuk Ta’abudi kepada Ilahi selalu dalam puisi di Nusantara. Puisi-puisi Chairil Anwar bicara tentang kemanusiaan menyentuh tentang dirinya, Tuti Artic, Diponegoro, Kepada Pelukis Affandi, Kepada Angkatanku, Mirat, Basuki Resobowo, Gadis Rasyid, Nyonya N, Buat K, Buat Sri Ayati, Kepada Penyair Bohang, walaupun secara psikiknya itu pengalaman Chairil, namun sentuhannya adalah sentuhan kemanusiaan untuk renungan kehidupan yang ada hubungannya dengan masalah horisontal dan vertikal. Puisi berikut menjadi contoh pencarian yang ditemui penyair, menemukan suara nuraninya yang terlindung selama ini:
DOA
-Kepada Pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu.
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
CayaMu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling.
(The Complete Poems of Chairil Anwar 1974:67)
DALAM KERETA
Dalam kereta.
Hujan menebal jendela.
Semarang, Solo…..makin dekat saja
Menangkup senja.
Menguak purnama,
Caya menyayat mulut dan mata.
Menjengking kereta. Menjengking jiwa.
Sayatan terus ke dada.
(Ibid. 69)
6
Daya ekonomik Chairil dilanjutkan Rendra dalam “Stanza”, mulai simbolis dan memberikan kita teka-teki yang indah. Puisi tidak hanya polos, misterinya juga bagai misteri kejadian alam Tuhan sendiri. Planetnya yang sentiasa menarik para saintis dan penyair untuk meneliti dan menyairkannya. Rendra merekam:
STANZA
Ada burung dua, jantan dan betina
Hinggap di dahan
Ada daun dua, tidak jantan tidak betina
Gugur di dahan.
Ada angin dan kapuk, dua-dua sudah tua
Pergi ke selatan.
Ada burung,daun,kapuk,angin dan mungkin juga debu
Mengendap dalam nyanyiku
(ANTOLOGIA DE POETICAS, 2008:218)
Taufiq Ismail seolah memberikan makna puisi kepada kepenyairannya, dengan amat komunikatif sekali. Nah, beliau juga menyebutkan hubungannya dengan yang di vertikal itu “Keabadian Yang Akan Datang”. Hati Nuraninya sudah siap-sedia untuk masuk ke alam ghaib itu. Di dunia puisinya mewarnai fungsi untuk kemanusiaan dan tamadun, tetapi hidup di alam akhirat juga ditata :
DENGAN PUISI, AKU
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya.
(Ibid.216)
Isyarat untuk tidak berlebih-lebihan dalam pengucapan atau ekspresi itu tetapi berjaya diajukan oleh Sapardi Djoko Damono dalam “Aku Ingin”:
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang taksempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.
7
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang taksempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Ibid., 223)
Sehubungan itu, Abdul Hadi W.M. dengan relijius membawakan “Doa”, kenyataan yang real, tetapi ada kaitannya dengan Kuasa di Alam Ghaib itu sendiri, the Supreme Power, the elmighty:
DOA
Kalau ada yang mengulurkan kenyang dari perut nasi
Hingga enyah lapar ini, Kaulah tangan itu
Kalau ada kenyang yang meliputi nasi hingga tergerak tangan
Ini membukanya, Kaulah kenyang itu
Kalau ada nasi yang kembali jiwa lapar hingga
Bangkit kekuatan tangan ini, Kaulah nasi itu.
Tapi kalau ada lapar yang bergerak menggeliat merebut nasi
Untuk sekedar kenyang hingga tergoncang seluruh bumi
Kaulah air mata ini.
Amin.
(Ibid. 230)
Rasa tawaduk Abdul Hadi WM tentang “nasi” dan kehidupan, sudah dimulai oleh Masuri S.N dalam “Ini Nasi Yang Kusuap”. Bezanya Masuri terus bercakap tentang hutang budi dan sanjungannya kepada para petani yang berjasa, keringat dan airmata tetapi Abdul Hadi meresapkan kuasa di sebalik sana, kuasa al-Kamal Ilahiah secara mistikal dengan menghemat kata dan menipiskan ekspresi yang polos dengan amsal-amsal dalam bait. Hal ini bukanlah mudah. Ini akan dapat diungkapkan HANYA melalui pengalaman panjang dan dengan sedikit kesabaran. Samalah juga halnya seperti kesadaran tradisi “Mantera” Sutardji menjelmakan kesadaran relijius apabila dia mengungkapkan dengan mesra :
Lima percik mawar
Tujuh sayap merpati
Sesayat langit perih
Dicabik puncak gunung
Sebelas duri sepi
Dalam dupa rupa
Tiga menyan luka
Mengasapi duka
Puah!
Kau jadi Kau!
Kasihku.
(Ibid.302)
Pada hemat saya ada percubaan-percubaan yang meyakinkan sudah wujud dalam puisi penyair Nusantara mutakhir. Ini saya dasarkan pada dua buku ANTOLOGIA DE POETICAS (ADP) (2008) dan
8
Antologi Musibah Gempa Padang (2009). Antologi pertama memuatkan puisi-puisi penyair Indonesia dan Malaysia dengan terjemahan dalam bahasa Portugis. Manakala antologi MGP memuatkan puisi penyair Indonesia, Malaysia dan Singapura. Selain puisi A.Samad Said, Usman Awang, Kemala, Taufiq Ismail, Baha Zain, Sapardi Djoko Damono, Muhammad Haji Salleh, Abdul Hadi WM dan Sutardji Calzoum Bachri ADP diterbitkan juga puisi dari penyair generasi baru seperti Acep Zamzam Noor, Sony Farid Maulana, Fatin Hamama, Rieke Dyah Pitaloka, Amien Wingsatalaja, Moh. Wan Anwar, Jamal D. Rahman, Aslan Abidin, Cecep Syamsul Hari, Fikar W. Eda, D. Kemalawati, Gus TF Sakai, Dorothea Rosa Herliany. Manakala dari Malaysia terdapat suara generasi baru seperti Moehctar Awang, Lim Swee Tin, Marsli N.O., Zaen Kasturi, Hasyuda Abadi dan Rahimidin Zahari.
Antologi MGP menembungkan A Rahim Qahhar, Asep Sambodja, Rini Asmoro, Ahmad Najiullah Thaib, Kardy Syaid, Budhi Setyawan, Yo Sugianto, Kirana Kejora, Yayan Triyansayah, Sarah Sarena, Jack Efendi, A. Rahman elHakim, Abdullah Khusairi, Badrul Munir Chair, Rama Prabu, Viddy AD Daery, Sepri Handayani, Amien Wangsitalaja, Doel CP Allisah, Harsandi Nugraha, Kartika Kusworatri, Putri Pratama, Emmy Marthala, Silfi Hanani, Fitri Susila,Mokhtar Rahman, ratnaputri2, Benny Tjundawan, Indah ip, Muhammad Subhan, Pringadi Abdi Surya, Maulina Muzirwan, Happy Muslim, Zera, Jun An Nizami, Mimin, Anugrah Roby Syahputra, Fitriani Um Salva, Dwi Mita Yulianti, Zainal aka, Zahrul Bawady M.Daud (Indonesia).
Malaysia diwakili Kemala, Akmal Jiwa, Airiel Uzayr, Hasyuda Abadi, Ramlan Abdul Wahab, Haizir Othman, Raja Rajeswari, Nilamsuri, Eziz Shukman, Kerisakti, Ahkarim, abdullahjones, Zek Marman, Ms. Mokhtar, Hasimah Haron, N. Faizal, Musalmah Mesra, Mohd Dahri Zakaria, AzmiRahman, Kalamutiara, Mokhtar Rahman, Yajuk, Lim Swee Tin, Haniff Romainoor, Teratakerapung, Wan Nur-Iliyani Wan Abu Bakar, An Bakri, Haimi Yahya & Fairuz Sulaiman, HMS Abu Bakar, dan Irwan Abu Bakar.
Olehkerana deretan penyairnya panjang, saya ingin memetik ungkapan mereka yang pada hemat saya istemewa, puitis dan asli di samping pengucapan mereka yang bersahaja tetapi meninggalkan kesan yang Indah dengan lapis makna yang dalam – yakni percubaan mengungkap rasa dari hati nurani mereka yang setulusnya. Saya memungut secara spontan:
Siapa bilang cintaku putih? Mungkin abu
Atau mungkin segelap hidupku
(Moh. Wan Anwar)
Kau menggali lukaku
Sedalam sungai kenangan
(Amien Wangsitalaja)
Menanam intifada dalam gemuruh luka
Semakin kutekan, semakin membisik
(Fatin Hamama)
9
Kisah negeri terjal:
Bunga di atas batu
Lakon lembah kekal
Dibuai waktu
(Sitor Situmorang)
Laut talam emas
Bergegas
Menyampaikan kabar pada kerabat
Bahwa
Isteriku sudah berani mandi
di tepian pantai
Vinaroz.
(Ramadhan KH)
Semua orang memetik mawar
Biar aku saja memetik senyummu yang ramah
(Fakhrunnas ma Jabbar)
Seperti kita tak pernah paham bahwa membakar
Kemarau tak akan melahirkan bara, melainkan
Bola-bola salju.
(Jamal D. Rahman)
Di sisiku kau berdiri dalam terik matahari sesudah
Fajar – di kakimu, nasib. Di kepalamu, takdir.
Di lubuk sukmamu, bermukim karang
Dari tujuh samudera…
(Zaen Kasturi)
Hidungnya di pinggul
Matanya di dada
Telinganya di pusar
Mulutnya diperut
Dan otaknya dilutut.
(Marsli NO)
Tetapi akulah rumput bumi yang tumbuh
Antara semerbak mawar dan desis ular.
(Rahimidin Zahari)
10
Di malam ini kita gigil bersama
Dan jutaan jarum tajam turun dari langit
(Baha Zain)
Aku mahu jejenang tingkapku
Dilalui angin lembah,
Kayu tiangnya semegah cengal di hutan,
Tikarnya selunak mengkuang di paya
(Muhammad Haji Salleh)
Pertanyaan menggenang menjadi laut, dan
Nelayan mengailnya satu satu; di mana daratan dan mana
Dataran, akupun menari; menarikan langit
(RADHAR PANCA DAHANA)
IV
DARIPADA ANTOLOGI MUSIBAH GEMPA PADANG SAYA PERTURUNKAN BEBERAPA PUISI YANG SAYA KIRA MEWAKILI PARA PENYAIR DI DALAMNYA:
SEPERTI SUNYI…SEPERTI KELABU
KAIN KAFANMU
SEPERTI KELMARIN , KETIKA PEDATI MELEWATI KOTA KITA
KAU INGIN SEKALI MENAIKINYA
“AKU INGIN BERKELANA KE SURGA” KATAMU
SEPERTI SAAT INI, SAAT AKU MENATAP BANGKAIMU,
YANG REMUK TERTIMPA BATU
LALU AKU TERSURUK
SEPERTI SUNYI DI BARZAHMU
BADRUL MUNIR CHAIR
AKU ADA DI LANTAI TIGA
GONCANGAN HEBAT ITU AKU LALAP
DI LANTAI TIGA DENGAN KHIDMAT
SEGALA KEPASRAHAN LUNAS
TAK KURANG DARI TIGA MENIT
SETELAH KENYANG AKU BERKEMAS SEBAB
ANGKA KEMATIAN MERAMBAT KELUAR
IZAZUL ZILATIL ARDU ZIL ZALAHA
SEMUA TELAH BERGUNCANG
DI LANTAI TIGA AKU RETAK
ABDULLAH KHUSAIRI
11
GELEGAK 7, 6
BUMI BERGEGAR, MELENGGANG, MENGGUNCANG
LAUT MABUK MENCAMBUK KARANG TAJAM
MANUJSIKA TERKETAR KAKU, KELU TERDIAM
GELAP PEKAT MERUNDUNG RANAH MIKNANGKU.
MERAK KUNCUP SAYAP ‘ANGKARA APA INI?”
SARANG RANAP DALAM BADAI
GELAS ARAK BERSEPAI
GELINDING MENGHENTAK DINDING
BERLIAN, MUTIARA, WANG DAN KEANGKUHAN
SEKEDIP MATA DITELAN BUMI.
EMMY MARTHALA
PARIAMAN
INIKAH TANDA-TANDAMU,
YANG LUPA KAMI BACA?
AFALA TA’QILUN, AFALA TATAFAKKARUN
KAMI DHOIF, SOMBONG DAN LUPA DIRI
KEMBALIKAN ROH KAMI KE HARKATNYA
NYALAKAN IKHLAS DI HATI
HIDUPKAN TAQWA YG TERLALAI!
HANYA PADANYA KITA BERSERAH DIRI.
KARDY SYAID
MEMBACA BAHASA SEMESTA
DUKA MEMANJANG
DARI TELANJANG PADANG
MEMANJANGKAN AKAL INSANI.
AIRMATA MELURUH
DARI HAMPA MELIMPAH
MELURUHKAN ANGKUH BATINI.
HARAPAN MERUNTUH
DARI TUBUH LULUH
MERUNTUHKAN GELOJOH NALURI.
HAYAT TERANGKAT
DARI MUSIBAH SINGKAT
MENGANGKATKAN KESUMAT DUNIAWI.
AKU MEMETIK MUHASABAH
MENJADI BASAH DAN PASRAH
DALAM SINGGAH SEBUAH MUSIBAH MERAH!
RAJA RAJESWARI SEETHA RAMAN
12
GEGAR GEMPA, DERITA DUGA, LUKA LAKNAT
AKU BERDIRI DI PADANG LAPANG LUAS TERBENTANG
DI DEPAN TUHAN
MUSIBAH DI PADANG JELAS TERPAMPANG DI DAULAH PINJAMAN
ADA DERITA TUHAN MENDUGA, ADA LUKA TUHAN MELAKNAT
INI TAKDIR BUAT HAMBANYA, DAL;AM RENCANA-NYA
PASRAHLAH TUAN.
IRWAN ABU BAKAR
TERSEBAB OLEH KAF DAN NUN
TERSEBAB OLEH KAF DAN NUN
ORANG-ORANG MENCATAT LUKA
SEJARAH TERAYUN-AYUN.
:JALAN RAYA TERBELAH DUA
LONGSOR MENGUBUR DESA
RUMAH LELUHUR TERKUBUR LUMPUR
GEDUNG BERTINGKAT RUNTUH BERLIPAT
NINIKMAMAK NGUCAP TERGAMAK
PADUSI TERHIMPIT TULANG BESI
MURID TENGAH BERLAJAR TERJEPIT
SANGTRI SEDANG BERZIKIR TERJUNGKIR
HEWAN GTERNAK MATI TEGAK.
SERIBU JIWA MEREGANG
SIBIRIN TULANG HANGUS TERPANGGANG
ULAT-ULAT MENGGELIAT
NYELINAP DI KANTUNG MAYAT.
JANGAN TERKA INI MUSIBAH PURBA
ATAU TEKA-TEKI ALAM SEMATA
INI REKAYASA DIA
TERSEBAB OLEH KAF DAN NUN
JADILAH: KUN!
TERSEBAB OLEH KUN
ORANG MENCATAT
DUKA BERKURUN-KURUN
A RAHIM QAHHAR
NISAN BENTANG MASA DEPAN
NISAN TUA MUNGKIN ESOK ATAU LUSA
KITA KAN BERDAMPING MESRA
KARENA PUPUS MASTI ADA HAK
DAN TUHAN M EMBUKTI ADIL DI TARIKAN NAFAS KEHIDUPAN
TAK ADA YANG LEWAT DARI BATAS PUSARA
DI SANA, DI SANA MASA DEPAN DIRETAS TETAS
RAMA PRABU
13
K E S I M P U L A N
NUSANTARA MELAHIRKAN TIGA IKON CHAIRIL (INDONESIA) USMAN AWANG (MALAYSIA) DAN MASURI DI SINGAPURA. SELEPASNYA PENYAIR BERBOBOT LAHIR . GENERASI BARU BELAJAR DARI TRADISI YANG SUDAH DIMANTAPKAN OLEH MEREKA. ANTARA TRADISI DAN MODEN BERTEMU SEPERTI PERTEMUAN GELORA LAHIRIAH SOSIO-EKONOMI-POLITIK MEMBUAK DENGAN GLOBALISASI NAMUN DIREDUP DAN DITENANGKAN OLEH AKAR AKIDAH DAN ROHANIAH. MEREKA MENDENGAR SUARA HALUS ROHANI DAN BATINI, KADANG WAKTU SUARA MEREKA MENYONGSONG RIBUT DAN TAUFAN SEPERTI “1943” CHAIRIL ANWAR, MEMBAHANA BAGAI “PAMAN DOBLANG” RENDRA, DAN KADANG KALI MEREKA SEREDUP SAPARDI DALAM “AKU INGIN” ATAU SESUFISTIK ABDUL HADI WM DALAM “TUHAN, KITA BEGITU DEKAT” TETAPI NYATALAH MEREKA SEDAR BAHWA YANG MEREKA NUKIL ADALAH SUARA DALAMAN KALBU YANG PENUH BERSENI, MARAHNYA SUDAH DITAPIS, MIMPINYA SUDAH MENEMUKAN DIKSI-DIKSI YANG BERLAMBANG, PERSONIFIKASINYA SEGAR ASLI, METAFORANYA MEMANCARKAN KEINDAHAN
YANG NUSANTARA. DI MANAKAH SESUNGUHNYA MEREKA BERDIRI DALAM TAZKIYAH AL-NAFSNYA ITU? BAGI SAYA SEKURANG-KURANGNYA MEREKA BERDIRI DI TAKAH ANTARA MULHAMAH DAN MUTHMAINNAH, DENGAN BEGITU ADALAH UPAYANYA MEMBISIK HALUS MENDOA KEPADA AL-KHALIQNYA:
TUHANKU, CUKUPLAH.
BENARKAH INI UNTUK KAMI
IBU, AYAH DI MANA KALIAN…
DALAM DEBU DAN RUNTUHAN
KAMI MENUNGGU DALAM SEDUSEDAN
TUHANKU, CUKUPLAH.
KAMI BAYI-BAYI SUCI, PUTIH BERSIH
GUNCANGAN KIAMAT INI
CUKUPLAH, TAK KUAT KAMI MENANGGUNG DERITA
SIANG KEMARAU, MALAM MEMBEKU
TUBUH KAMI MEMBIRU.
TUHANKU, CUKUPLAH, CUKUPLAH.
MAULINA MUZIRWAN
• DISAMPAIKAN PADA PERTEMUAN PENYAIR NUSANTARA 2009, ANJURAN PERSATUAN PEN ULIS NASIONAL MALAYSIA (P E N A), DEWAN BAHASA DAN PUSTAKA PADA 20-22 NOVEMBER 2009, KUALA LUMPUR MALAYSIA